News Ticker

Menu
Previous
Next

TERKINI

POLITIK

HUKUM

TEKNO

GAYA



OLAHRAGA

DUNIA



HIBURAN

Recent Posts

Mahasiswa Nilai Mutu Pendidikan Aceh Terpuruk

Selasa, 02 September 2014 / No Comments
BANDA ACEH | ACEHKITA.CO -- Belasan mahasiswa yang menamakan diri Care Education of Aceh berunjukrasa di Bundaran Simpang Lima Banda Aceh, Selasa (2/9/2014). Mereka menilai kualitas pendidikan terpuruk dalam dua tahun kepemimpinan Zaini Abdullah dan Muzakir Manaf.

Demo yang bertepatan dengan peringatan Hari Pendidikan Daerah (Hardikda) Aceh itu diwarnai dengan aksi teatrikal. Dalam aksi teatrikal tersebut, mahasiswa menggelar salat jenazah.

"Ini sebagai simbol bahwa matinya pendidikan dalam dua tahun Zaini dan Muzakir Manaf memimpin Aceh," kata Koordinator Aksi Rizwan.

Menurut Rizwan, pasangan Zaini Abdullah dan Muzakir Manaf tidak mampu meningkatkan kualitas pendidikan Aceh. Pasalnya, pada kelulusan ujian nasional 2014, Aceh menjadi daerah dengan tingkat ketidaklulusan tertinggi di Indonesia.

"Pendidikan Aceh semakin terpuruk," sebut Rizwan sembari meminta agar Gubernur Zaini mengevaluasi kinerja Dinas Pendidikan di tingkat provinsi dan kabupaten/kota.

Mahasiswa juga menyorot janji kampanye pasangan Zaini-Muzakir dalam pemilihan kepala daerah 2012 lalu. Saat itu, pasangan yang diusung Partai Aceh ini berjanji akan menggratiskan biaya pendidikan mulai dari tingkat sekolah dasar hingga perguruan tinggi. "Namun sudah lebih dua tahun mereka memimpin, janji itu belum terealisasikan," kata Rizwan.

Hari ini Aceh memperingati Hari Pendidikan Daerah yang dipusatkan di Lapangan Tugu Kampus Darussalam. Gubernur Zaini menyiratkan bantahan tudingan mahasiswa soal kualitas pendidikan. Menurut Gubernur Zaini, Aceh telah mencapai delapan standar nasional pendidikan yang ditetapkan oleh pemerintah pusat.

"Alhamdulillah pendidikan Aceh semakin bergerak naik mencapai angka ideal, hampir berada di posisi rata-rata nasional dengan nilai rata-rata SNP Aceh 63,49 persen atau berada pada peringkat 15 dari 33 provinsi," sebut Zaini. []

OPINI | Masyarakat Penentu Kualitas Pendidikan

/ No Comments
Oleh Maslina SE*

PENDIDIKAN adalah permasalah terpenting bagi semua orang. Dengan pendidikan yang tinggi maka pengetahuan orang juga akan bertambah. Melalui pendidikan, seseorang bisa memperoleh apa yang menjadi harapan dan cita-cita dalam hidupnya.

Perilaku dan akhlak seseorang juga dapat diukur dari tingkat pendidikannya. Makin tinggi tingkat pendidikan seseorang, maka makin tinggi pula akhlak kepribadiannya.

Berbicara masalah pendidikan, berarti tidak lepas dari bicara tentang masyarakat. Karena pendidikan yang berkualitas tidak bisa terpisahkan dengan kepedulian masyarakat. Yang termasuk masyarakat di sini adalah orang-orang yang berada di sekitar kita. Semua unsur yang ada dalam masyarakat mempunyai andil yang besar dalam menentukan kualitas pendidikan yang ada di Aceh.

Selama ini masyarakat punya pandangan yang keliru terhadap problematika pendidikan. Di mana pendidikan dianggap semata-mata tanggungjawab guru atau bahkan pemerintah. Padahal, sesungguhnya pendidikan adalah tanggungjawab kita semua.

Makanya, baik guru, orang tua, lingkungan dan pemerintah mempunyai tanggung jawab yang sama. Jadi pendidikan bukan tanggung jawab guru semata. Karena itu, butuh kerjasama yang baik antara guru dan orang tua. Pada sisi lain, lingkungan juga sangat besar pengaruhnya terhadap kualitas pendidikan.

Sebab, hanya lingkungan yang baik akan menghasilkan generasi yang baik pula. Anggapan yang keliru selama inilah yang membuat mutu pendidikan di Aceh sangat hancur. Karena masalah pendidikan semata-mata diserahkan sepenuhnya kepada guru di sekolah. Sepulang dari sekolah orang tua masih banyak yang tidak mengontrol anak-anaknya lagi di rumah terutama dalam hal pelajaran di sekolah.

Begitu juga masyarakat disekitarnya, kurang peduli jika mendapati anak sekolah berkeliaran di jalanan. Masyarakat membiarkan saja, karena beranggapan bahwa anak-anak tersebut bukan anaknya, maka tidak perlu diperhatikan.

Padahal sesungguhnya anak-anak tersebut juga anak-anak kita, anak-anak bangsa yang harus kita perhatikan perkembangannya. Dengan kita memperhatikan generasi bangsa berarti kita telah menyelamatkan negara. Masa depan bangsa terletak di tangan generasi muda. Oleh karena itu kita wajib menjaga bersama generasi muda kita terutama dalam hal pendidikan mereka. Dengan pendidikan yang baik akan melahirkan Sumber Daya Manusia yang berkualitas.

Masalah pendidikan tidak bisa dipisahkan dengan masalah akhlak. Dalam hal ini, orang tua mempunyai peran penting dalam pembentukan akhlak anaknya. Untuk membentuk akhlak anak yang baik, dibutuhkan orang tua yang berakhlak baik juga.

Akhlak yang baik sangat ditentukan oleh pendidikan yang baik pula. Oleh karena itu orang tua wajib mempunyai bekal pendidikan yang baik dalam mendidik anak-anaknya. Kalau orang tua tidak punya pendidikan yang cukup, bagaimana mungkin dia dapat mendidik anak-anaknya dengan baik.

Kearifan lokal (local wisdom) Aceh sudah sejak dari dulu mengingatkan itu dalam dalam hadih majanya; pakiban u meunan minyeuk, kiban ku meunan aneuk. Pesan endatu atau nenek moyang ini jika diterjemahkan secara bebas berbunyi; bagaiman kelapa begitu minyaknya, bagaimana orang tua begitu anaknya.

Akhlak yang baik ditentukan oleh pendidikan agama yang baik. Dan ini bisa dilihat dari tingkat keimanan seseorang kepada Allah SWT. Pendidikan dan iman harus sejalan, sehingga terciptanya akhlak yang baik pada diri seseorang. Jika tingkat keimanan seseorang sudah baik, otomatis akhlak dan perbuatannya akan baik pula. Begitulah Allah SWT mengatur kehidupan hambanya.

Karena dalam melakukan kegiatannya sehari-hari orang tersebut berpedoman pada ketentuan yang sudah di gariskan Allah SWT dan tidak akan menyimpang karena merasa diawasi oleh Allah SWT.
Kalau tingkat kepedulian masyarakat sudah tinggi terhadap masa depan bangsa, khususnya dalam masalah pendidikan, berarti kualitas pendidikan dapat kita tingkatkan. Karena guru tidak lagi bekerja sendiri dalam mendidik generasi bangsa.

Masyarakat dan orang tua juga harus proaktif dalam menciptakan pendidikan yang berkualitas. Artinya, jika sudah ada komunikasi yang baik antara guru, orang tua dan masyarakat dalam membina anak-anak mereka, kita yakin perubahan itu akan segera terjadi.

Hal ini tentunya tidak terlepas dari pemahaman bahwa orang tua dan masyarakat juga harus mengambil andil dalam mendidik anak-anak mereka, tidak semata-mata masalah pendidikan diserahkan kepada guru di sekolah. Namun orang tua dan masyarakat juga ikut mengontrolnya di rumah.

Semua pihak harus benar-benar memahami akan fungsi dan tanggung jawabnya masing-masing. Sehingga tidak saling berharap dan tidak saling menyalahkan jika terjadi sesuatu kepada anak-anak melainkan dipikirkan secara bersama-sama. Dengan demikian segala persoalan dapat teratasi.

Namun demikian ada sebuah catatan penting, bahwa yang menjadi ujung tombak dalam menentukan kualitas pendidikan adalah guru, di samping adanya keterlibatan semua pihak. Karena guru yang berkualitas akan menghasilkan murid yang berkualitas pula. Akan tetapi, guru selain berkualitas harus juga kreatif dan inovatif dalam mendidik.

Artinya, seorang guru harus bisa memberikan rasa aman, nyaman sehingga disenangi oleh muridnya. Karena perasaan tersebutlah, maka murid bisa dengan mudah menerima dan menyerap semua ilmu yang disampaikan oleh gurunya. Guru juga harus bisa memberikan motivasi kepada muridnya, sehingga timbul semangat belajarnya.

Namun, yang kita dengar selama ini, guru tidak mengajar layaknya seorang pendidik. Ini bisa dilihat dari sikapnya yang kurang menganyomi, menyayangi dan mengasihi anak didiknya. Dalam kata lain, barangkali kita bisa katakan, kini para guru tidak lagi “mencintai” pekerjaannya.

Kenapa begitu, karena kebanyakan para guru yang selama ini mendidik tidak punya latarbelakang yang memadai sebagai seorang guru. Kenapa ini bisa terjadi, karena tak lain akibat banyak oknum guru yang merasa terlanjur karena tak punya peluang kerja yang lain.

Pada sisi lain, yang perlu kita camkan bahwa pentingnya menyamakan misi dari level paling atas sampai ketingkat paling bawah tentang betapa pentingnya pendidikan bagi suatu bangsa. Karena maju mundurnya suatu Negara atau daerah diukur dari tinggi rendahnya mutu pendidikan. Melalui pendidikanlah terciptanya SDM yang baik sesuai yang kita butuhkan.

Untuk itu, perlu kita tingkatkan terus kesamaan persepsi kita tentang pentingnya pendidikan. Serta pemahaman bahwa pendidikan adalah tanggung jawab kita bersama tanpa ada pengecualian baik dari aparatur pemerintahan sampai ke tingkat masyarakat.

Nah, bicara peran masyarakat, saya pikir pemerintah juga harus mengkampanyekan ini kembali guna merangsang lagi kepedulian mereka tentang pentingnya pendidikan. Bukan hanya pendidikan untuk lingkungan keluarga saja, namun pendidikan di level lingkungan juga harus bagus.

Bila semua ini sudah berjalan sesuai harapan, tentu pada suatu saat nanti, kita akan menerima imbas baik dari proses yang terbangun dari kesadaran warga. Sebab kita harus menyakini, masyarakat (terutama keluarga, lalu lingkungan) itu bisa menjadi penentu mutu pendidikan yang baik. Apabila semua kita bekerjasama, saya kini kualitas pendidikan kita bisa diperbaiki.

Makanya amat penting, lahirnya kesadaran dari keluarga dan masyarakatnya. Semoga dengan timbulnya kesadaran itu pada diri kita semua, maka kita dapat secara bersama-sama membawa perubahan pendidikan di Aceh kearah yang lebih baik lagi dari tahun-tahun sebelumnya. Semoga. []

* Penulis adalah aktivis perempuan dan jurnalis warga
tinggal di Lampaseh, Banda Aceh 

Soal RPP Migas, Gubernur Temui Menteri CT

/ No Comments
BANDA ACEH | ACEHKITA.CO -- Delegasi Aceh yang dipimpin Gubernur Zaini Abdullah menemui Menteri Koordinator Ekonomi dan Keuangan Chairul Tanjung untuk membahas Rancangan Peraturan Pemerintah Minyak dan Gas Aceh, Senin (1/9/2014).

Pembahasan RPP Migas mengalami jalan buntu. Hingga delapan tahun setelah Undang-Undang Pemerintaha Aceh disahkan, Pusat belum juga menerbitkan regulasi mengenai tata kelola minyak dan gas bumi Aceh. Deadlock itu diakibatkan pada ketidaksamaan persepsi antara Aceh dengan Jakarta.

Kepada Menteri Chairul Tanjung (CT), Gubernur Zaini menyampaikan keinginan Aceh agar Pusat merampungkan RPP Migas sebelum Presiden Susilo Bambang Yudhoyono mengakhiri masa jabatannya pada Oktober nanti.

“Kami sudah berusaha semaksimal mungkin bagaimana caranya agar harapan rakyat Aceh bisa terwujud. Kami tak mengenal lelah untuk mengurus kepentingan rakyat Aceh,” kata Zaini dalam rilis yang dikirim ke acehkita.co, Selasa (2/9/2014).

Menteri CT, sebut rilis itu, berjanji menyampaikan permasalahan ini ke Presiden Yudhoyono. []

BPTP Aceh Gelar Pameran Pertanian

/ No Comments
Zikri Maulana/ACEHKITA.CO
BANDA ACEH | ACEHKITA.CO -- Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Aceh menggelar seminar regional wilayah Sumatera dan pameran inovasi pertanian pada 2 – 5 September 2014 untuk memperingati 40 tahun lahirnya lembaga tersebut.

Kepala BPTP Aceh Basri A. Bakar mengatakan seminar sehari yang berlangsung 2 September akan membahas mengenai teknologi pertanian dengan memanfaatkan sumberdaya lokal yang ramah lingkungan. Seminar akan diikuti peserta dari Kalimantan, Sulawesi, Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, dan provinsi di Sumatera.

Selain itu, pihaknya akan mengadakan pameran inovasi pertanian di halaman kantor itu BPTP hingga 5 September mendatang. Seminar dan pameran ini akan diikuti oleh beragam pihak, para peneliti, penyuluh, akademisi, dan praktisi.

“Diharapkan melalui seminar ini nantinya dapat merumuskan kebijakan dan strategi dalam pemanfaatan hasil penelitian/pengkajian sehingga mempercepat empat target sukses kementerian,” ujar Hasan Basri. []

Siswa Aceh Ikut Olimpiade Sains

/ No Comments
Peserta Olimpiade Sains tingkat Banda Aceh, 2013. | Foto: disdikporabna.com
BANDA ACEH | ACEHKITA.CO -- Provinsi Aceh mengirimkan sebanyak 21 peserta dari jenjang SMA/SMA-LB dan SMK, untuk mengikuti Olimpiade Sains Nasional (OSN) dan Olimpiade Sains Terapan Nasional (OSTN), yang dijadwalkan akan berlangsung sejak 1 hingga 7 September mendatang di Mataram, Nusa tenggara Barat.

Mereka diberangkatkan setelah mengikuti sebuah upacara penglepasan di Dinas Pendidikan Aceh. Anas M. Adam, Kepala Dinas Pendidikan, menyebutkan, siswa yang akan dikirim ke Mataram itu sebelumnya telah lolos seleksi berjenjang mulai dari tingkat sekolah, kabupaten dan kota serta provinsi.

Setelah berhasil meraih juara di tingkat nasional, selanjutnya akan melaju ke tingkat internasional. “Siswa yang dikirim ini merupakan aset pemerintah untuk mengharumkan nama baik provinsi Aceh”, kata Anas, Senin (1/9/2014).

Menurut Anas, Olimpiade Sains tersebut untuk memfasilitasi dan menjaring siswa SMA maupun SMK yang memiliki potensi serta bakat dan minat dalam bidang sains.

Sementara itu Kepala Bidang Pendidikan Menengah Dinas Pendidikan Aceh, Nailul Authar, mengharapkan prestasi yang pernah diraih di tahun 2009, mampu terulang kembali dengan gemilang tahun ini.

Berikut peserta OSN jenjang SMA :

Wira Abdillah Siregar/ SMA Fatih Bilingual School/Bidang Studi Komputer

Teuku Amrullah Faisal/ SMA Modal Bangsa/Bidang Studi Komputer

Imam Maulana A/SMA Fatih Bilingual School/Bidang Studi Biologi

Said Fatkhan Alaydrus/SMA Negeri 4 Banda Aceh/Bidang Studi Kimia

Agnia Purnama/SMA T. Nyak Arief Fatih Bilingual School/Bidang Studi Kimia

Ocha Bahtara/SMA Modal Bangsa/Bidang Studi Geografi

Muhammad Haikal/SMA Fatih Bilingual School/Bidang Studi Kebumian

M. Abiyyu Ali Putra/SMA Fatih Bilingual School/Bidang Studi Fisika

Santa Ayu Sakinah/SMA T. Nyak Arief Fatih Bilingual School/Bidang Studi Fisika

Mufti Al Ummam/SMA Fatih Bilingual School/Bidang Studi Matematika

Suri Rahma Fahira/SMA Negeri 10 Banda Aceh/Bidang Studi Ekonomi

Safira Kemala Dewi/SMA Negeri 10 Fajar Harapan/Bidang Studi Astronomi

Alvin Rachmat/SMA Modal Bangsa/Bidang Studi Astronomi

Peserta OSN SMA-LB :
Fitri Akmalia/SMA-LB YPAC Banda Aceh/Bidang Studi Ilmu Pengetahuan Alam

Dian Prahmanza Putra/SMA-LB Negeri Pembina/Bidang Studi Karya Ilmiah

M. Rudi Syahputra/SMA-LB Pembina/Bidang Studi Matematika

Peserta OSTN SMK :
Al Raafi/SMK Negeri 2 Banda Aceh

Irawati Fitriani/SMK Negeri 1 Takengon

Zahri/SMK Negeri 2 Banda Aceh

Alzauzi/SMK Negeri 1 Lhoksukon

Alwin Nugraha/SMK Negeri 3 Lhokseumawe

[]

Jagoannya Kalah, Ini Harapan Wagub Aceh pada Jokowi

Senin, 01 September 2014 / No Comments
Foto: Dok Humas Pemerintah Aceh
BANDA ACEH | ACEHKITA.CO -- Wakil Gubernur Aceh Muzakir Manaf akhirnya mengucapkan selamat atas kemenangan Joko Widodo dan Jusuf Kalla dalam pemilihan presiden. Muzakhir yang menjagokan Prabowo Subianto ini ikut menaruh harapan pada presiden dan wakil presiden terpilih.

Muzakir Manaf berharap agar pemerintahan Jokowi-JK segera melimpahkan kewenangan dan pengelolaan Pelabuhan Bebas Sabang kepada Pemerintah Aceh seperti diatur dalam UU No 11/2006. "Ini penting untuk peningkatan kesejahteraan rakyat Aceh secara keseluruhan," kata Muzakir Manaf saat berbicara di Sabang, Ahad (31/8/2014) malam.

Pelabuhan bebas Sabang, kata Muzakir, menjadi pintu gerbang Aceh dalam pembangunan ekonomi. “Dari sini nadi ekonomi Aceh akan berdenyut dan menyebar seluruh Aceh,” kata Ketua Tim Pemengan Prabowo-Hatta di Aceh itu. “Jadi kita harapkan, pemerintah baru nantinya segera merealisasikan harapan rakyat Aceh.”

Muzakir Manaf juga mengatakan kemenangan Jokowi-JK tak terlepas dari konstribusi Gubernur Aceh Zaini Abdullah. “Tapi saya dukung dari belakang karena beliau tim sukses nomor 2 (Jokowi-JK). Jagoan saya sudah kalah, ya kita terima, sekarang kita hargai hasil demokrasi,” tandas Muzakir.

Jokowi-JK diminta untuk menepati janjinya kepada Gubernur Zaini. "Bukan saja soal Pelabuhan Bebas Sabang, tapi juga menyangkut perwujudan MoU Helsinki dan UUPA," ujar Muzakir. []