News Ticker

Menu
Previous
Next

TERKINI

POLITIK

HUKUM

TEKNO

GAYA



EKONOMI

DUNIA



HIBURAN

Recent Posts

FOTO | Jemaah Haji Masuk Asrama

Jumat, 19 September 2014 / No Comments
Sebanyak 440 jemaah calon haji asal Banda Aceh, Aceh Timur, dan Aceh Besar yang tergabung dalam Kloter I, masuk asrama pada pukul 20.30 WIB, Kamis (18/9/2014). Mereka akan diberangkatkan ke Tanah Suci pada Jumat (19/9/2014) pukul 22.45 WIB. | FOTO: Radzie/ACEHKITA.CO







Jemaah Haji Kloter I Masuk Asrama

Kamis, 18 September 2014 / No Comments
Radzie/ACEHKITA.CO
BANDA ACEH | ACEHKITA.CO -- Sebanyak 440 jemaah calon haji yang tergabung dalam kelompok terbang (Kloter) pertama, sejak pukul 20.30 WIB, Kamis (18/9/2014) mulai memasuki asrama haji di kawasan Lampineung, Banda Aceh.

Jemaah calon haji Kloter I berasal dari Kota Banda Aceh (121 orang), Aceh Besar (158 orang), dan Kabupaten Aceh Timur (156 jemaah), serta lima petugas haji. Mereka akan diberangkatkan ke Tanah Suci Mekkah melalui Bandara Sultan Iskandar Muda pada pukul 22.00 WIB, Jumat (19/9/2014).

Tiba di Asrama Haji, calon jemaah menjalani pengecekan barang dan pemeriksaan kesehatan oleh tim medis. Para jemaah juga mendapat jatah ikan kayu (keumamah).

Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama Aceh, Ibnu Sa'dan, menyebutkan, baru tahun ini Aceh memberangkatkan jemaah calon haji pada malam hari.

"Karena masuk asrama malam, mereka juga akan diberangkatkan Jumat malam," kata Ibnu Sa'dan kepada acehkita.co, Kamis malam. "Ini baru pertama sekali, selama 10 tahun lebih, kita menerima jemaah pada malam hari."

Embarkasi Haji Banda Aceh akan memberangkatkan 3.192 jemaah calon haji --termasuk 29 tim pendamping haji daerah dan 35 petugas kloter-- yang tergabung dalam tujuh kloter penuh dan satu kloter campuran. "Ada 117 orang jemaah haji kita akan bergabung dengan jemaah asal Lombok dan Sulawesi," ujar Ibnu Sa'dan. "Nanti jemaah Aceh tetap akan berangkat dari Bandara Sultan Iskandar Muda." | FG

BERITA FOTO | Kabut Asap Selimuti Lhokseumawe

/ No Comments
LHOKSEUMAWE | ACEHKITA.CO -- Kota Lhokseumawe diselumuti kabut asap sejak Rabu (17/9/2014) sore. Akibatnya, jarak pandang terhalang oleh asap yang berasal dari kebakaran hutan di sejumlah daerah di Aceh, termasuk di Provinsi Riau. Kabut asap makin parah pada Kamis (19/9/2014) sehingga mengganggu aktivitas warga.

Informasi yang diperoleh acehkita.co dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Lhokseumawe, sebagian besar kabut asap itu diakibatkan kebakaran akibat pembukaan lahan baru di beberapa titik di Aceh. "Asap dari Riauhanya sebagian kecil saja," kata pejabat BPBD Lhokseumawe.

Lhokseumawe kebagian asap dari kebakaran hutan di Riau karena tengah menghadapi musim angin timur. Foto-foto di bawah ini direkam Zikri Maulana, pewarta foto ACEHKITA.CO di Lhokseumawe, Kamis (18/9/2014).




FOTO | Razia Busana

/ No Comments
Petugas Polisi Syariat (Wilayatul Hisbah/WH) mendata dan menasehati sejumlah warga yang terjebak dalam razia busana yang digelar lembaga tersebut di kawasan Taman Budaya Aceh, Banda Aceh, Kamis (18/9/2014). Razia busana ini menyasar perempuan yang memakai pakaian ketat dan lelaki yang bercelana pendek atau tidak menutup aurat.




Polisi Tangkap 5 Pengedar Sabu

/ No Comments
Chaideer Mahyuddin/ACEHKITA.CO
BANDA ACEH | ACEHKITA.COM -- Kepolisian Resort Kota Banda Aceh kembali menangkap lima pengedar sabu-sabu di kawasan Banda Aceh dan Aceh Besar, Rabu (17/9/2014). Dari mereka, polisi menamankan satu ons sabu senilai Rp150 juta.

Ini merupakan aksi kedua Polresta Banda Aceh menangkap kasus narkotika. Sebelumnya, Satuan Narkoba berhasil membongkar dan menangkap gembong narkotika yang melibatkan narapidana. (Baca: Polresta Banda Aceh Tangkap Pengedar Sabu)

Kepala Kepolisian Resort Kota Banda Aceh Kombes Pol Zulkifli menyebutkan, polisi menangkap lima pengedar sabu-sabu di Desa Prada, Kecamatan Syiah Kuala, dan Lambaro Kaphe, Kecamatan Ingin Jaya, Aceh besar.

Kelima tersangka berinisial HP (28 tahun), KZ (25), RF (19) --ketiganya asal Banda Aceh; MD (47) dan ABD (35) asal Aceh Utara.

Awalnya polisi memperoleh informasi keberadaan mereka dari masyarakat. Berbekal informasi itu, petugas menangkap HP di sebuah rumah di Jalan Durian Timur, Desa Peurada, sekira pukul 15.30 WIB. Dari HP, polisi menyita satu botol minuman, satu pipet bening berisikan sabu, dan satu kaca pirek.

HP bernyanyi, sehingga polisi menciduk KZ, ABD, dan RF, di Desa Jeulingke, Kecamatan Syiah Kuala. Ketiganya ditangkap di sebuah rumah yang berada di belakang SPBU Jeulingke. Dari ketiga tersangka ini, polisi menyita satu botol air kemasan yang sudah dibolongi, satu kaca pirek sisa pembakaran sabu, dan tiga bungkus kecil berisi sabu.

Tak berapa lama, polisi bergerak ke Desa Lambaro dan menangkap MD. Di sini, polisi menyita barang bukti berupa satu ons sabu yang ditaksir bernilai Rp150 juta. MD mengaku, sabu tersebut diperoleh dari S, warga Aceh Utara. Saat ini, S masih dalam pengejaran polisi.

"Kita akan kembangkan lagi kasus ini," kata Kombes Pol. Zulkifli kepada wartawan, Kamis (18/9/2014).

Kelima pengedar sabu ini, sebut Zulkifli, tidak terkait dengan jaringan sindikat narkotika yang melibatkan narapidana. "Tapi kita akan dalami," sebut dia.

Kapolresta menyebutkan, kelima pengedar dijerat dengan Pasa 112 ayat (1) Undang-undang Nomor 35/2009 tentang Narkotika. Mereka terancam dihukum seumur hidup. | SABARUN

Cerita dari Ajang Pertukaran Pemuda Indonesia-Malaysia

/ No Comments
Dok. Trisna Mulyanti
SELAMA sekitar satu bulan saya mengikuti rangkaian kegiatan Indonesia-Malaysia Youth Exchange Program (IMYEP) tahun 2014 di Jakarta, Bali, dan Malaysia. Kegiatan ini merupakan program tahunan Kemenpora RI bekerja sama dengan Kerajaan Malaysia, dan sudah berjalan yang ke-34 kalinya.

Setelah melalui seleksi ketat oleh Dispora Aceh dan PCMI Aceh bulan April lalu, akhirnya pada tanggal 13 Agustus, saya berangkat dan bertemu dengan 33 delegasi Indonesia lain serta 32 delegasi Malaysia. Selama di Jakarta, kami berkesempatan mengikuti upacara kemerdekaan RI, courtesy call di Kemenpora RI, dan media visit di Kompas Group. Kemudian bertolak menuju Bali untuk mengikuti program yang antara lain berisi kegiatan homestay di Desa Mas Ubud, courtesy call di Istana Kepresidenan Tampaksiring, workshop pembuatan topeng & latihan tarian Bali, cultural performance, dll.

Selanjutnya di fase Malaysia, para delegasi melakukan courtesy call di ASEAN Secretariat di Kementrian Luar Negeri Malaysia, yang saya diakui sebagai sesi favorit selama berdiskusi panjang lebar mengenai ASEAN Economic Community (AEC) 2015. Kegiatan program lainnya di Malaysia antara lain adalah homestay, kunjungan ke Muzium Negara, Istana Kesultanan Malaka, Kedubes RI di KL, media visit ke RTM (Radio dan TV Malaysia), perayaan upacara kemerdekaan Malaysia, juga cultural performance berupa parade baju adat daerah, penampilan tari, medley lagu daerah, pameran budaya dan produk negeri. Saya mempersiapkan diri dengan baik dan membawa bahan-bahan promosi daerah yang diperolehnya dari Disbudpar dan Bainprom Provinsi Aceh.

Ini merupakan kesempatan sangat berharga, karena saya dapat menjadi salah satu wakil dalam usaha menjaga hubungan bilateral dua negara tetangga yang sering tidak stabil ini. Misalnya untuk isu klaim budaya, setelah ditelusuri melalui diskusi di berbagai kesempatan, semua delegasi dapat mencapai mutual understanding yang tidak merugikan salah satu pihak, dan sepakat bahwa blow-up media dapat berperan besar menghasut perpecahan. Karena faktanya, Malaysia tidak pernah melakukan bentuk “klaim budaya” apapun ke UNESCO terhadap produk seni-budaya Indonesia. Yang selama ini paling panas digembar-gemborkan sebagai “klaim budaya” adalah video promosi pariwisata Malaysia berisi cuplikan tarian/pakaian/dll yang mirip khas daerah Indonesia.

Hal ini tidak dapat dipungkiri sebagai kewajaran, karena memang sangat banyak sekali keturunan asli Indonesia yang menetap di berbagai daerah di Malaysia, kemudian melestarikan seni budayanya disana. Saya dan para delegasi pemuda sendiri telah merasakan langsung hal ini selama melakukan homestay di Negeri Sembilan, di salah satu kampung yang sangat kental dengan kebudayaan Jawa-nya. Di sini banyak yang fasih berbahasa Jawa, bahkan delegasi sempat disuguhi sebuah penampilan angklung oleh para remaja setempat.

Saya menilai, pergi ke Malaysia dianggap mudah di Aceh karena begitu dekat. Tapi pengalaman yang diperoleh dalam paket lengkap berupa program pertukaran seperti ini sungguh sangat berharga dan penting, justru karena dilaksanakan bersama negara sahabat terdekat seperti Malaysia. Apalagi juga dilakukan bersama-sama dengan pemuda hebat dari seluruh provinsi Indonesia yang sangat beragam. Sehingga banyak inspirasi dan wawasan yang terasa sangat mengena untuk diri saya pribadi, supaya dapat mengambil bagian dalam mengejar ketertinggalan Aceh dan Indonesia. Saya bersyukur dan bangga dapat menambah pengalaman lagi melalui rangkaian kegiatan ini, dan sangat mendorong kawan-kawan pemuda Aceh lain untuk ikut mencoba. Karena selain untuk pengembangan diri, kita juga menjadi duta muda penyampai nilai-nilai positif Aceh dan Indonesia di hadapan rekan-rekan provinsi lain se-Indonesia dan juga negara lain, sesuai dengan bidang masing-masing yang kita kuasai.

Setiap tahunnya seleksi program Pertukaran Pemuda Antar Negara (PPAN) diselenggarakan oleh Dispora Aceh bekerja sama dengan PCMI Aceh (organisasi alumni pertukaran pemuda) sekitar bulan Maret-Mei. Tesnya seputar wawasan daerah, wawasan kebangsaan, wawasan global terutama mengenai negara tujuan, kemampuan Bahasa Inggris, seni dan budaya, group discussion, serta public speaking. Semoga semakin banyak pemuda/i yang mau dan mampu ikut serta menyukseskan kegiatan pertukaran semacam ini dalam rangka menjaga nama baik Aceh dan Indonesia. | TRISNA MULYATI


TRISNA MULYATI, lulusan Teknik Industri ITB Bandung. Saat ini magang di International Centre for Aceh and Indian Ocean Studies (ICAIOS).