News Ticker

Menu
Previous
Next

TERKINI

POLITIK

HUKUM

TEKNO

GAYA



OLAHRAGA

DUNIA



HIBURAN

Recent Posts

FOTO | Memilih Ikan Asin

Selasa, 16 September 2014 / No Comments
Pembeli memilih ikan asin di Patek, Aceh Jaya, Selasa (16/9/2014). Ikan-ikan asin tersebut  dijual berkisar antara Rp30-Rp200 ribu perekornya. Omset rata-rata perhari pedagang ikan asin di Patek diatas Rp2 juta. Sejak sebelum tsunami, Patek menjadi sentra ikan asin di kawasan pantai Barat Aceh. | Ucok Parta/ACEHKITA.CO


Bunuh Guru, Pratu Andika Dipecat

/ No Comments
BANDA ACEH | ACEHKITA.CO -- Pratu Andika Chandra Kirana Suryanta dipecat dari dinas TNI karena terbukti membunuh Kurnia Hamka, 31 tahun, seorang guru di Aceh Tengah. Selain dipecat, Pratu Andika juga dihukum penjara selama 14 tahun.

Hukuman itu dijatuhkan majelis hakim Pengadilan Militer Banda Aceh, Selasa (16/9/2014). Dalam persidangan, Pratu Andika terbukti membunuh guru tersebut karena tergiur iming-iming uang sebesar Rp5 juta.

Majelis Hakim Pengadilan Militer menyebutkan, Pratu Andika melanggar Pasal 340 KUHP tentang pembunuhan berencana dan mencoreng nama baik TNI. "Pengadilan menghukum terdakwa dengan pidana 14 tahun penjara dihitung masa tahanan sementara dan dipecat dari dinas militer," kata Ketua Majelis Hakim Mayor CHK Arwin Makal saat membacakan vonis hakim.

Pratu Andika diajukan ke meja hijau akibat membunuh Kurnia Hamka pada 1 Januari 2014 di sebuah jalan kawasan Danau Laut Tawar Takengon. Pembunuhan itu dilakukan bersama Tamliha. Pasalnya, Tamliha dan Kurnia terlibat utang-piutang sebesar Rp18 juta. Tamliha murka, karena Kurnia tak kunjung membayar utang meski sudah beberapa kali ditagih.

Di persidangan Andika menyebutkan bahwa ia bersedia menghabisi Kurnia asal diberikan uang. "Kalau ada uangnya kita lewatkan," kata Andika kepada Tamliha.

Tamliha menjanjikan Andika uang sebesar Rp5 juta. Andika mengajak Praka ENS --yang masih buron-- untuk membantu Tamliha. Akhirnya, mereka bertiga menjemput Kurnia di rumahnya di kawasan Ketol. Saat itu, Kurnia diajak jalan-jalan untuk mencari perempuan kencan. Namun, setiba di kawasan sepi, korban dihabisi dengan melilitkan tali nilon di leher korban.

Untuk menghilangkan jejak, korban dikuburkan di kawasan Bandara Rembeli, Wih Pesam, Bener Meriah. Sedangkan pakaian dan tali nilon dibakar.

Tak lama setelah kasus pembunuhan ini, Tamliha dicokok polisi. Dalam persidangan di Pengadilan Negeri Aceh Tengah, Tamliha mengakui perbuataannya dan memberitahu lokasi kuburan korban. Tamliha sendiri divonis 18 tahun penjara.

Majelis Hakim Pengadilan Militer menyebutkan, perbuatan Pratu Andika mencoreng nama baik institusi TNI. Hukuman berat juga dijatuhkan akibat Pratu Andika akhirnya diketahui pernah menikah siri tanpa diketahui kesatuannya.

Hukuman 14 tahun penjara lebih ringan dari tuntutan Oditur Militer yang menuntut 15 tahun penjara. Meski begitu, Oditur Militer masih pikir-pikir apakah menerima putusan atau mengajukan banding. Sedangkan Pratu Andika menyatakan banding. | ATTAYA ALAZKIA

FOTO | Aksi Menolak BPPA

Senin, 15 September 2014 / No Comments
Belasan pemuda yang menamakan diri Gerakan Anti-Barisan Penyelamat Pemerintah Aceh (GA-BPPA) melakukan aksi menolak keberadaan organisasi BPPA di Tugu Rencong Lhokseumawe, Senin (15/9/2014). Dalam orasinya mereka mengajak seluruh rakyat Aceh untuk tidak terprovokasi oleh aksi-aksi BPPA yang dinilai dibangun secara terencana untuk memperkeruh suasana perdamaian di Aceh. | FOTO: Reza Juanda/ACEHKITA.CO




Jejak Cak Munir di Aceh

/ No Comments
Nat Riwat/ACEHKITA.COM
Oleh; Feri Kusuma

Setiap tanggal 7 September, di seluruh penjuru negeri, bahkan di luar negeri orang-orang mengenang kematian Cak Munir. Saya pun ingin mengingat sosoknya lewat tulisan ini. Sosok yang memberikan sumbangan besar bagi terwujudnya perdamaian di Aceh.

Sembilan tahun  lalu, tepatnya 8 September 2005, KontraS Aceh mengadakan seminar bertema ‘Peran Munir untuk Perdamaian Aceh’. Dalam tulisan sederhana ini, saya hanya ingin menggambarkan bagaimana peran Munir bagi Aceh, dari sudut pandang sejumlah orang. Aceh, yang pernah mengalami konflik bersenjata yang menelan nyawa manusia dan harta benda sejak rezim Orde Baru (Soeharto) hingga era Megawati, sangat pantas memberi penghormatan pada jasa Munir. Pasalnya, Munir telah berkontribusi besar untuk Aceh.

H. Waisul Qarani Ali (wakil Ketua DPRD Aceh), salah seorang pembicara dalam seminar tersebut, mengatakan bahwa peran Munir seperti memecahkan buah kelapa yang di dalamnya bertumpuk berbagai macam persoalan. Kita bisa lihat berbagai macam persoalan yang terjadi pada era 1990an dan reformasi. Munir berani menguak masalah tersebut sehingga mengemuka. Perdamaian ini terjadi karena ada proses yang saling berkait. Seandainya tidak ada Munir dengan gebrakan HAM yang dikumandangkannya, tidak tahu apakah perjanjian Helsinki bisa terujud.

Senada dengan Waisul Qarani, seorang pembicara lain dari kalangan akedemisi yaitu Dr. Iskandar A. Gani, SH, M.Hum, mengakui bahwa Munir berhasil mengungkap semua kasus pelanggaran HAM di Aceh sehingga mata dunia internasional melihat Aceh. Dengan adanya perhatian dunia, persoalan Aceh menjadi persoalan tingkat internasional. Perdamaian ini tentu tidak terjadi begitu saja. Secara fisik dan psikis, sebelum 26 Desember 2004, rakyat Aceh sudah tersiksa dengan berbagai tindak kejahatan kemanusiaan dan ditambah lagi dengan bencana alam yang menjadi sorotan dunia.

Jasa Munir dalam membela korban kejahatan kemanusiaan di Aceh juga terekam erat dalam ingatan para korban. Pada suatu hari, ketika saya datang ke pesantren Babul Al-Nurillah untuk membantu memperingati Tragedi Beutong Ateuh, seorang santri berkata tentang Munir pada saya “Bagi kami, Munir adalah pahlawan. Ia sangat berjasa pada kami.” Sebagaimana kita tahu, Munir adalah orang yang menyuarakan dan mengecam terjadinya pembantaian di Beutong Ateuh pada Juli 1999.

MoU Helsinki sudah 9 tahun ditandatangani. Proses itu tidak terjadi begitu saja. Kalau tidak ada yang membangunkan tentu tidak akan terjadi. Dan hari ini kita benar-benar harus menghargai satu pengorbanan. Kita melihat apa yang telah dilakukan Munir. Ia telah mengungkapkan kasus besar yang kerap membuat orang takut.

Kini, sudah kita rasakan nikmatnya perdamaian. Sementara Munir telah tiada. Munir dan para pejuang lainnya telah melakukan ini dengan taruhan nyawa. Berbagai masalah telah terbongkar. Kita (Aceh) dan masyarakat Indonesia berhutang pada Munir dan para pejuang yang telah menisbahkan hidup matinya untuk perjuangan dan perdamaian Aceh. Seharusnya setiap memperingati perdamaian, Aceh juga mesti mengingat jasa mereka. Selain itu, sebagai bentuk penghormatan kepada Munir dan para pejuang serta korban, sudah saatnya Pemerintah Aceh membangun museum atau monumen di Aceh.  Sementara itu, kepada Presiden Joko Widodo dan Wapres Jusuf Kalla, kita berharap keberanian mereka membongkar tabir hitam kematian Munir dan menegakkan hukum seadil-adilnya.

Di sisi lain, kita harus sadar bahwa saat ini ketidakadilan juga masih berlangsung di mana-mana. Hak-hak para korban masih jauh dari kenyataan. Jurang antara yang kaya dengan yang miskin semakin dalam. Penegakan hukum masih timpang dan refresif. Apakah kondisi seperti ini kita biarkan begitu saja?.

Mengutip pernyataan Rufriadi (almarhum), “Aceh butuh orang yang punya mentalitas dan sikap seperti Munir. Semangat, roh dan ide-idenya harus kita perjuangkan dalam mengisi proses perdamaian, di mana kita bisa bernafas lebih panjang dan bisa hidup dengan aman dan damai.”

Mantan Direktur LBH Banda Aceh itu menggambarkan Munir sebagai seseorang yang sangat konsisten dan berkomitmen terhadap pilihan yang ia jalankan. Ketika dalam proses tekanan dan momentum hilang, orang banyak beralih, tapi Munir tetap konsisten.  Sangat langka melihat orang yang bermain di level gagasan dan melahirkan kebijakan, juga terlibat sampai level kerja-kerja lapangan.  

Advokasi kasus pelanggaran HAM yang dilakukan Munir diakui luar biasa. Ia berani bicara tidak hanya dalam situasi terbuka di mana orang bebas bicara, tetapi juga dalam situasi tertutup dan penuh tekanan pun Munir berani. Dia selalu berbicara berdasarkan data dan fakta yang akurat serta valid dengan analisa-analisa yang tajam. Selain berani dan cakap. Munir juga menginspirasi banyak orang.

Munir adalah model atau suri tauladan yang pantas ditiru oleh aktivis HAM atau oleh siapa pun yang ingin berjuang menciptakan perubahan yang lebih baik. Di tengah popularitas yang dimilikinya, ia tetap rendah hati. Tidak pernah memanfaatkannya untuk kepentingan pribadi.

7 September 2014 lalu, tepat satu dekade Munir mangkat. Memperingati kematian Munir sangat penting, tapi jauh lebih penting menghormati dan meneruskan apa yang telah ia lakukan. Seperti penggalan bait Puisi Ninik Indarni (Perhimpunan Solidaritas Buruh) “Mampukah kamu lanjutkan kembali//Perjuangannya untuk negeri ini//Mampukah kamu turuti kata hati//Merdekakan nurani dengan harga mati.

Semoga ruhnya tetap hidup dalam jiwa-jiwa para pemberani. Tetap ada dan terus berlipat ganda. Karena melawan ketidakadilan dan menyelamatkan manusia dari tindakan zalim manusia serta melakukan perubahan ke arah yang lebih baik merupakan pekerjaan mulia yang diridhai Tuhan Yang Maha Kuasa.*


*Feri Kusuma, Kepala Biro Pemantauan dan Dokumentasi KontraS

Pedagang Diminta Kir Timbangan

/ No Comments
Radzie/ACEHKITA.CO
BANDA ACEH | ACEHKITA.CO -- Dinas Perindustrian dan Pedagangan meminta pedagang di Banda Aceh untuk mengekir ulang timbangan. Pasalnya, Banda Aceh ditetapkan sebagai daerah tertib ukur.

Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Aceh Safwan menyebutkan, Kementerian Perdagangan telah menetapkan ibukota Provinsi Aceh itu sebagai daerah tertib ukur, bersama empat daerah lain di Indonesia, yaitu Gianyar, Semarang, Tangerang Selatan, dan Solok.

Penetapan ini menyebabkan Disperindag terus melakukan penertiban dengan cara mengekir timbangan para pedagang. Sejak penetapan itu, Disperindag telah dua kali mengekir timbangan di Banda Aceh.

Kir timbangan terakhir dilakukan Senin (15/9/2014) di pusat pasar Peunayong. Saat kir tersebut, para pedagang terlihat berbondong-bondong membawakan timbangannya untuk ditera ulang oleh UPTD Metrologi.

Saat kir tersebut, UPTD Metrologi menemukan sebuah timbangan berbahan seng buatan Tiongkok. "Tidak ditemukan ada timbangan yang tidak standar," kata Safwan, Senin.

Tak hanya hari ini, Disperindag akan terus mengekir timbangan para pedagang di seluruh pasar di Banda Aceh. Para pedagang diminta tidak menggunakan timbangan plastik. "Itu hanya untuk rumah tangga. Gunakan timbangan standar," sebut Safwan sembari meminta agar pedagang untuk segera mengekir timbangan ke UPTD Metrologi. | SABARUN

Tikar Pandan Raih Penghargaan AFI 2014

/ No Comments
Dok. Tikar Pandan
BANDA ACEH | ACEHKITA.CO -- Komunitas Tikar Pandan berhasil meraih penghargaan Apresiasi Film Indonesia (AFI) 2014 yang digelar di Istana Maimun, Medan, Sumatera Utara, Ahad (14/9/2014).

Meraih Apresiasi Komunitas, Tikar Pandan menyisihkan empat nominator lain, yaitu Forum Lenteng (Jakarta), Komunitas Godong Gedang (Banjarnegara), Komunitas Sarueh (Padang Panjang), dan Komunitas Sangkanparan (Cilacap). AFI digelar oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan bekerjasama bersama Badan Perfilman Indonesia sejak 2012.

Direktur Komunitas Tikar Pandan Azhari Aiyub menyebutkan, penghargaan ini didedikasikan kepada mereka yang menjadi penonton setiap film yang diputar di Komunitas Tikar Pandan.

"Ini kebanggaan bagi Aceh," kata Azhari Aiyub kepada acehkita.co, Senin (15/9/2014).

Menurut Azhari, Komunitas Tikar Pandan dianggap berada di garda depan dalam menyebarluaskan film Indonesia, selain medium bioskop, terutama di daerah yang tidak memiliki jaringan bioskop.

Komunitas Tikar Pandan telah menginisiasi pemutaran film dalam 10 tahun terakhir ini. Pascatsunami, komunitas ini membentuk Episentrum Ulee Kareng, yang bertugas menangani pemutaran film independen berkualitas.

Dalam sekali pertunjukan, para penonton tak begitu banyak. Hanya sekitar 40 orang saja. Saat ini terbentuk klub diskusi film dan Tikar Pandan menjadi fasilitator, seperti menyediakan film-film berkualitas. "Sebulan paling kita memutar tiga kali," ujar Azhari.

Azhari menyebutkan, pemutaran film itu berawal dari ide untuk berbagi film berkualitas kepada publik. "Ada film yang setelah kami nonton kami anggap bagus, lalu kami ingin berbagi dengan orang lain," sebut Azhari.

Film yang diputar di Komunitas Tikar Pandan bukan jaringan Hollywood atau Bollywood yang selama ini menyerbu Indonesia, yang bisa dengan mudah ditemukan di lapak bajakan. "Di luar jaringan itu ada film bagus, yang penuh dengan unsur pendidikan. Dari situ kami galang dan sebarkan ke publik," tambah penulis Aceh ini.

acehkita.co mencatat, Tikar Pandan menggelar sejumlah acara nonton film, seperti Festival Film Eropa, Festival Film Jerman, Cang Film, dan Khanduri Film.

Komunitas Tikar Pandan memperoleh film-film tersebut dari jaringan mereka di Bandung, Jakarta, Jogjakarta, Berlin, Prancis, atau Bangkok. "Itu film komunitas atau independen yang tidak ada di jaringan bioskop," sebut Azhari. | FG