News Ticker

Menu
Previous
Next

TERKINI

POLITIK

HUKUM

TEKNO

GAYA



OLAHRAGA

DUNIA



HIBURAN

Recent Posts

Jagoannya Kalah, Ini Harapan Wagub Aceh pada Jokowi

Senin, 01 September 2014 / No Comments
Foto: Dok Humas Pemerintah Aceh
BANDA ACEH | ACEHKITA.CO -- Wakil Gubernur Aceh Muzakir Manaf akhirnya mengucapkan selamat atas kemenangan Joko Widodo dan Jusuf Kalla dalam pemilihan presiden. Muzakhir yang menjagokan Prabowo Subianto ini ikut menaruh harapan pada presiden dan wakil presiden terpilih.

Muzakir Manaf berharap agar pemerintahan Jokowi-JK segera melimpahkan kewenangan dan pengelolaan Pelabuhan Bebas Sabang kepada Pemerintah Aceh seperti diatur dalam UU No 11/2006. "Ini penting untuk peningkatan kesejahteraan rakyat Aceh secara keseluruhan," kata Muzakir Manaf saat berbicara di Sabang, Ahad (31/8/2014) malam.

Pelabuhan bebas Sabang, kata Muzakir, menjadi pintu gerbang Aceh dalam pembangunan ekonomi. “Dari sini nadi ekonomi Aceh akan berdenyut dan menyebar seluruh Aceh,” kata Ketua Tim Pemengan Prabowo-Hatta di Aceh itu. “Jadi kita harapkan, pemerintah baru nantinya segera merealisasikan harapan rakyat Aceh.”

Muzakir Manaf juga mengatakan kemenangan Jokowi-JK tak terlepas dari konstribusi Gubernur Aceh Zaini Abdullah. “Tapi saya dukung dari belakang karena beliau tim sukses nomor 2 (Jokowi-JK). Jagoan saya sudah kalah, ya kita terima, sekarang kita hargai hasil demokrasi,” tandas Muzakir.

Jokowi-JK diminta untuk menepati janjinya kepada Gubernur Zaini. "Bukan saja soal Pelabuhan Bebas Sabang, tapi juga menyangkut perwujudan MoU Helsinki dan UUPA," ujar Muzakir. []

Kembalinya si Anak Hilang

/ No Comments
Pasangan Jamaliah dan Septi Rangkuti akhirnya menemukan anak keduanya yang hilang sepuluh tahun silam saat gelombang gergasi melanda Kota Meulaboh dan beberapa kawasan di Aceh. Ucok yang mereka yakini bernama asli Arif Pratama ditemukan di Paya Kumbuh, Padang dan hidup dijalanan.

Ada suasana haru, gembira dan terkadang syahdu saat Arif bertemu keluarga besarnya di Lorong Kangkung, Ujong Kalak. Septi Rangkuti sangat yakin Ucok adalah putra keduanya yang hilang itu karena bekas luka dihidung sebelah kanan dan tahi lalat di kepalanya sama.

Berikut foto suasana bersatunya keluarga dan sianak hilang yang direkam Chaideer Mahyuddin/ACEHKITA.CO dua hari setelah tiba di Meulaboh:




Zaini Abdullah Kembali Digoyang

/ No Comments
BANDA ACEH | ACEHKITA.CO -- Jabatan Gubernur Zaini Abdullah kembali digoyang. Seratusan warga yang menamakan diri Barisan Penyelamat Pemerintah Aceh (BPPA) berunjukrasa di gedung DPRA, Senin (1/9/2014). Mereka mendesak agar parlemen membentuk panitia khusus untuk memberhentikan Zaini Abdullah dari jabatan gubernur Aceh.

Unjukrasa massa anti-Gubernur Zaini Abdullah itu mengusung sejumlah spanduk dan karton yang bertuliskan sejumlah tuntutan agar Zaini mundur. Sebuah spanduk bernada hujatan dengan menyebutkan "Zaini Abdullah pengkhianat bangsa Aceh" juga diusung pendemo. Massa silih berganti menyampaikan orasi.

Massa BPPA hanya menuntut Zaini Abdullah meletakkan jabatannya. Tuntutan serupa tidak disuarakan kepada Wakil Gubernur Muzakir Manaf yang dipilih sepaket dengan Zaini dalam pemilihan kepala daerah lalu.

"Dua tahun lebih pemerintahan Zaini Abdullah (dan Muzakir Manaf) belum mampu menjalankan janji-janji politik pada waktu kampanye kepada rakyat Aceh," kata Muzakir Reza Pahlevi, koordinator aksi.

Penanggung jawab BPPA Hendra Budian menyebutkan bahwa Zaini Abdullah gagal mengemban amanat Undang-undang Pemerintahan Aceh dan perjanjian damai di Helsinki.

"Dua tahun setengah Zaini berada di tampuk kekuasaan, tapi tidak ada progres. Zaini hanya membangun dinasti keluarga," sebut Hendra Budian, yang juga politikus Partai Golkar.

Hendra mendesak agar DPRA segera membentuk panitia khusus untuk memakzulkan gubernur. "Aksi hari ini untuk meminta kebijaksanaan DPRA, bahwa DPRA harus melihat realitas yang ada di masyarakat. Rakyat Aceh mendesak Zaini mundur," ujarnya. "Kami minta DPRA mendengar aspirasi ini dan memberikan respons dengan membentuk pansus untuk memakzulkan (memberhentikan) Zaini."

Zaini Abdullah dan Muzakir Manaf maju dalam pemilihan kepala daerah 2012 lalu. Pasangan ini menamakan diri dwitunggal dengan akronim Zikir. Zaini merupakan petinggi Gerakan Aceh Merdeka dengan menjabat Menteri Luar Negeri di pengasingan. Sedangkan Muzakir Manaf merupakan panglima perangnya.

Lantas, mengapa BPPA tidak menuntut mundur Muzakir Manaf? "Zaini biang masalahnya. Semua kebijakan ada pada Zaini," sebut Hendra.

Menurut Hendra, Zaini tidak bisa memimpin team work di Pemerintahan Aceh. Hal ini terlihat dari seringnya gonta-ganti kabinet. []

Keasikan Karaoke, 7 Perempuan Dibekuk WH

/ No Comments
BANDA ACEH | ACEHKITA.CO -- Petugas Wilayatul Hisbah atau Polisi Syariat membekuk tujuh perempuan yang tengah keasikan mendendangkan lagu hingga larut malam di sebuah cafe di kawasan Batoh, Banda Aceh, Ahad (31/8/2014) sekira pukul 03.00 dinihari.

Informasi yang dihimpun acehkita.co, tujuh perempuan itu berkaraoke di sebuah cafe dengan kondisi lampu dimatikan. Polisi juga mendapati sejumlah lelaki, namun saat penggerebekan mereka berhasil melarikan diri.

"Karena anggota kita terbatas, yang pria berhasil lolos," kata Kepala Seksi Penegakan Peraturan Perundang-undangan dan Syariat Islam WH Banda Aceh, Evendi, Ahad (31/8/2014) malam.

Saat ditangkap, kata Evendi, perempuan tersebut tengah asik bergoyang mengikuti alunan musik karaoke. Mereka melanggar Qanun No 5/2000 tentang pelaksanaan Syariat Islam. Saat ini mereka telah dijemput keluarga. | GHAISAN

BERITA FOTO | Para Penambang Emas Melawan

/ No Comments
GEUMPANG | ACEHKITA.CO -- Gubernur Aceh Zaini Abdullah berkali-kali menyebutkan, pertambangan emas tradisional di Kecamatan Geumpang, Kabupaten Pidie, harus ditutup karena dikerjakan secara ilegal dan merusak lingkungan serta kesehatan warga.

Menanggapi hal tersebut, Sabtu (30/8/2014) ribuan warga Kecamatan Geumpang, Manee, dan Tangse menggelar rapat akbar untuk menolak keputusan yang dikeluarkan oleh Gubernur Aceh itu. Warga yang selama ini menggantungkan hidup dari pertambangan emas tradisional itu mengatakan, mereka menjamin kematian ribuan ikan di dua sungai di Kabupaten Pidie yang bermuara ke Teunom, Kabupaten Aceh Jaya, bukan karena sungai tersebut tercemar limbah pertambangan emas milik warga.

“Kedua sungai yang tercemar itu sangat jauh dengan pertambangan kami, jika ikan mati karena limbah tambang emas tradisional milik masyarakat, kenapa sungai yang letaknya lebih dekat dengan pertambangan tidak ditemukan ikan mati,” sebut M Nasir, koordinator penambang dari tiga kecamatan itu dalam orasinya.

Untuk mempertahankan agar usaha pertambangan emas tradisional yang telah memperbaiki perekomian ribuan masyarakat Geumpang, Manee dan Tangse tetap bisa beroperasi, ribuan penambang yang menghadiri rapat akbar itu, berdiri di panasnya matahari. Mereka juga menandatangani kain putih berstempel darah yang akan dikirimkan kepada Gubernur Aceh sebagai bentuk penolakan terhadap penutupan tambang rakyat.

“Boleh, tambang kami ditutup, tapi sebelumnya, Gubernur Aceh harus menutup semua perusahaan tambang yang ada di Aceh dan semua perusahaan asing di Aceh harus diusir dari Aceh,” teriak M Nasir dalam orasinya yang disambut teriakan setuju masyarakat.

Bagi warga Geumpang, Manee dan Tangse,  tambang emas tradisional telah menjadi primadona untuk bisa memperbaiki perekonomian mereka yang pernah hancur akibat konflik bersenjata di Aceh.

Mereka yang dulunya disebut kampungan dan miskin oleh masyarakat yang tinggal di luar tiga kecamatan itu, setelah tambang emas tradisional beroperasi, kata-kata ejekan tersebut mulai hilang. “Sekitar 12 ribu masyarakat hidup dan mencari nafkah di tambang emas, mulai dari penggali emas, tukang ojek bahkan pengangkut barang keperluan penambang, jika tambang ditutup, maka mereka semua akan menganggur dan kembali hidup miskin,  bahkan mereka bisa menjadi perampok atau pencuri,” sambung M Nasir. | NASKAH/FOTO: GIBRAN/ACEHKITA.CO








FOTO | Cap Jempol Darah

Sabtu, 30 Agustus 2014 / No Comments
Seribuan lebih penambang dari Kecamatan Geumpang dan Mane membubuhkan tandatangan dan cap jempol merah di atas kain putih sepanjang 50 meter pada rapat akbar di terminal keude Geumpang, Sabtu (30/8/2014). Mereka memprotes kebijakan gubernur yang memerintahkan penutupan tambang tradisional di Aceh. | FOTO: Ucok Parta/ACEHKITA.CO