News Ticker

Menu
Previous
Next

TERKINI

POLITIK

HUKUM

TEKNO

GAYA



OLAHRAGA

DUNIA



HIBURAN

Recent Posts

Ini Alasan Tikar Pandan Boyong Penghargaan AFI 2014

Rabu, 17 September 2014 / No Comments
Dok. Tikar Pandan
BANDA ACEH | ACEHKITA.CO -- Komunitas Tikar Pandan berhasil memboyong Piala Dewantara setelah dinobatkan sebagai pemenang penghargaan Apresiasi Film Indonesia 2014 kategori Apresiasi Komunitas.

Dewan juri yang terdiri atas Totot Indrarto, Nirwan Dewanto, Alex Komang, A.S. Laksana, Hafiz Rancajale, Hilmar Farid, Kemala Atmojo, Lasja F. Susatyo, Sheila Timothy memilih Tikar Pandan sebagai peraih penghargaan Apresiasi Komunitas AFI 2014.

Lembaga yang diinisiasi seniman muda di Banda Aceh ini menyisihkan empat nominator lain, yaitu orum Lenteng (Jakarta), Komunitas Godong Gedang (Banjarnegara), Komunitas Sarueh (Padang Panjang), dan Komunitas Sangkanparan (Cilacap).

Lalu, apa alasan dewan juri memantapkan hatinya memilih Komunitas Tikar Pandan?

Usai perhelatan, sudah menjadi tradisi bagi dewan juri untuk menuangkan catatan mengenai pelaksanaan AFI dan alasan di balik menentukan pemenang penghargaan.

Untuk kemenangan Tikar Pandan, dewan juri memiliki alasan sebagai berikut:

APRESIASI KOMUNITAS
Arti penting Liga Kebudayaan Komunitas Tikar Pandan (Banda Aceh) adalah bahwa ia memperjuangkan kebebasan berkreasi, toleransi, dan perhubungan dengan dunia luas di tengah masyarakat yang semakin dikuasai oleh formalisme keagamaan. Bermula dari kegiatan sastra dan tulis-menulis di tahun 2003, komunitas ini kemudian bergerak ke bidang-bidang kesenian yang lain, termasuk memutar dan membuat film serta menggelar lokakarya bersama para pembuat film. Keaktifan di bidang film tersebut menjadi sangat bermakna manakala di provinsi yang bersangkutan tidak terdapat gedung bioskop dan tempat-tempat pemutaran film, dan menonton film di tempat ramai tak termasuk kegiatan yang “direstui”.

Melalui Tikar Pandan, olah kesenian, termasuk olah perfilman, adalah jawaban terhadap berbagai komplikasi kemasyarakatan yang terjadi sejak masa Daerah Operasi Militer sampai bencana tsunami hingga berlakunya hukum agama pada hari ini.

Direktur Komunitas Tikar Pandan Azhari Aiyub menyebutkan, penghargaan ini didedikasikan kepada mereka yang menjadi penonton setiap film yang diputar di Komunitas Tikar Pandan.

"Ini kebanggaan bagi Aceh," kata Azhari Aiyub kepada acehkita.co, Senin (15/9/2014).

Menurut Azhari, Komunitas Tikar Pandan dianggap berada di garda depan dalam menyebarluaskan film Indonesia, selain medium bioskop, terutama di daerah yang tidak memiliki jaringan bioskop. []

Wakil Menteri Agama Resmikan UIN Ar-Raniry

/ No Comments
BANDA ACEH | ACEHKITA.CO -- Wakil Menteri Agama Nasaruddin Umar meresmikan perubahan status IAIN Ar-Raniry menjadi Universitas Islam Negeri Ar-Raniry di Auditorium Ali Hasjmy Banda Aceh, Rabu (17/9/2014).

“Dengan peralihan status ini semoga melahirkan para intelektual yang berakhlaqul karimah serta menambah prestasi intelektual bangsa Indonesia dengan berbasis keagamaan,” ujar Wakil Menteri Agama Nasaruddin Umar.

Wamen Agama RI ini juga berharap, dengan perubahan status ini dapat mengembalikan kegemilangan ilmu pengetahuan Islam, seperti yang pernah terjadi pada masa lalu, seperti Ibnu Sina, ahli kedokteran yang juga seorang sufi dan ahli Fiqh.

“Islam adalah agama universal dengan perubahan status ini kita berharap dapat mewadahi keluasan keilmuan Islam,” harap Nasaruddin.

Gubernur Aceh Zaini Abdullah menyatakan dukungan dan kegembiraan atas perubahan status ini. “Mengubah status IAIN Ar-Raniry menjadi UIN merupakan langkah yang tepat agar para alumni mampu menjawab kebutuhan pasar yang menuntut diversifikasi ilmu. Kini kampus UIN ini dapat menghasilkan para sarjana dalam bidang studi umum tapi dengan perspektif Islam,” ujar Zaini.

Gubernur juga mengingatkan agar melakukan transfer of knowledges bagi generasi muda sehingga mempunyai pengetahuan yang luas, unggul dan berdaya saing tinggi, serta membangun generasi dengan akhlaqulkarimah yang terpuji, jujur, punya semangat dan etos kerja yang tinggi, disiplin dan sanggup menghadapi berbagai ujian dan tantangan.

“Sejauh pengamatan kami, fungsi itu selama ini berjalan dengan baik. Tidak heran jika IAIN Ar-Raniry mendapat julukan sebagai jantong hate rakyat Aceh. Julukan itu diberikan mengingat besarnya peranan kampus ini dalam berbagai sisi kehidupan masyarakat di Aceh. Itu pula sebabnya masyarakat Aceh sangat mendukung agar UIN Ar-Raniry terus berkembang menyesuaikan diri dengan dinamika global yang terus berubah,” kata dia.

Sementara itu Rektor UIN Ar-Raniry Farid Wajidi Ibrahim menyatakan kegembiraannya terhadap perubahan status kampus jantung hati rakyat Aceh tersebut dan berharap perubahan tersebut membawa efek positif terhadap peningkatan kapasitas keilmuan.

“Saya sangat bangga dan gembira dengan perubahan status ini, semoga ini menjadi awal yang baik bagi kebangkitan ilmu pengetahuan dan kami mengharapkan dukungan dari semua pihak untuk UIN menjadi lebih baik,” ujar Farid. []

FOTO | Polresta Banda Aceh Tangkap Pengedar Sabu

/ No Comments
Kapoltabes Banda Aceh, Kombes Zulkifli menggelar barang bukti dan AS (40), tersangka pengedar sabu-sabu sebanyak 27 paket senilai Rp13 juta lebih di Mapolresta, Rabu (17/9/2014). Hasil pengembangan Satreskrim Narkoba juga berhasil menangkap tiga narapidana di Lembaga Pemasyarakatan Kajhu, dua orang pemakai sabu dikawasan Banda Aceh dan sedang mengejar dua pelaku pengedar lain di medan. FOTO | Chaideer Mahyuddin/ACEHKITA.CO.



FOTO | Memilih Ikan Asin

Selasa, 16 September 2014 / No Comments
Pembeli memilih ikan asin di Patek, Aceh Jaya, Selasa (16/9/2014). Ikan-ikan asin tersebut  dijual berkisar antara Rp30-Rp200 ribu perekornya. Omset rata-rata perhari pedagang ikan asin di Patek diatas Rp2 juta. Sejak sebelum tsunami, Patek menjadi sentra ikan asin di kawasan pantai Barat Aceh. | Ucok Parta/ACEHKITA.CO


Bunuh Guru, Pratu Andika Dipecat

/ No Comments
BANDA ACEH | ACEHKITA.CO -- Pratu Andika Chandra Kirana Suryanta dipecat dari dinas TNI karena terbukti membunuh Kurnia Hamka, 31 tahun, seorang guru di Aceh Tengah. Selain dipecat, Pratu Andika juga dihukum penjara selama 14 tahun.

Hukuman itu dijatuhkan majelis hakim Pengadilan Militer Banda Aceh, Selasa (16/9/2014). Dalam persidangan, Pratu Andika terbukti membunuh guru tersebut karena tergiur iming-iming uang sebesar Rp5 juta.

Majelis Hakim Pengadilan Militer menyebutkan, Pratu Andika melanggar Pasal 340 KUHP tentang pembunuhan berencana dan mencoreng nama baik TNI. "Pengadilan menghukum terdakwa dengan pidana 14 tahun penjara dihitung masa tahanan sementara dan dipecat dari dinas militer," kata Ketua Majelis Hakim Mayor CHK Arwin Makal saat membacakan vonis hakim.

Pratu Andika diajukan ke meja hijau akibat membunuh Kurnia Hamka pada 1 Januari 2014 di sebuah jalan kawasan Danau Laut Tawar Takengon. Pembunuhan itu dilakukan bersama Tamliha. Pasalnya, Tamliha dan Kurnia terlibat utang-piutang sebesar Rp18 juta. Tamliha murka, karena Kurnia tak kunjung membayar utang meski sudah beberapa kali ditagih.

Di persidangan Andika menyebutkan bahwa ia bersedia menghabisi Kurnia asal diberikan uang. "Kalau ada uangnya kita lewatkan," kata Andika kepada Tamliha.

Tamliha menjanjikan Andika uang sebesar Rp5 juta. Andika mengajak Praka ENS --yang masih buron-- untuk membantu Tamliha. Akhirnya, mereka bertiga menjemput Kurnia di rumahnya di kawasan Ketol. Saat itu, Kurnia diajak jalan-jalan untuk mencari perempuan kencan. Namun, setiba di kawasan sepi, korban dihabisi dengan melilitkan tali nilon di leher korban.

Untuk menghilangkan jejak, korban dikuburkan di kawasan Bandara Rembeli, Wih Pesam, Bener Meriah. Sedangkan pakaian dan tali nilon dibakar.

Tak lama setelah kasus pembunuhan ini, Tamliha dicokok polisi. Dalam persidangan di Pengadilan Negeri Aceh Tengah, Tamliha mengakui perbuataannya dan memberitahu lokasi kuburan korban. Tamliha sendiri divonis 18 tahun penjara.

Majelis Hakim Pengadilan Militer menyebutkan, perbuatan Pratu Andika mencoreng nama baik institusi TNI. Hukuman berat juga dijatuhkan akibat Pratu Andika akhirnya diketahui pernah menikah siri tanpa diketahui kesatuannya.

Hukuman 14 tahun penjara lebih ringan dari tuntutan Oditur Militer yang menuntut 15 tahun penjara. Meski begitu, Oditur Militer masih pikir-pikir apakah menerima putusan atau mengajukan banding. Sedangkan Pratu Andika menyatakan banding. | ATTAYA ALAZKIA

FOTO | Aksi Menolak BPPA

Senin, 15 September 2014 / No Comments
Belasan pemuda yang menamakan diri Gerakan Anti-Barisan Penyelamat Pemerintah Aceh (GA-BPPA) melakukan aksi menolak keberadaan organisasi BPPA di Tugu Rencong Lhokseumawe, Senin (15/9/2014). Dalam orasinya mereka mengajak seluruh rakyat Aceh untuk tidak terprovokasi oleh aksi-aksi BPPA yang dinilai dibangun secara terencana untuk memperkeruh suasana perdamaian di Aceh. | FOTO: Reza Juanda/ACEHKITA.CO