News Ticker

Menu
Previous
Next

TERKINI

POLITIK

HUKUM

TEKNO

GAYA



OLAHRAGA

DUNIA



HIBURAN

Recent Posts

Keasikan Karaoke, 7 Perempuan Dibekuk WH

Senin, 01 September 2014 / No Comments
BANDA ACEH | ACEHKITA.CO -- Petugas Wilayatul Hisbah atau Polisi Syariat membekuk tujuh perempuan yang tengah keasikan mendendangkan lagu hingga larut malam di sebuah cafe di kawasan Batoh, Banda Aceh, Ahad (31/8/2014) sekira pukul 03.00 dinihari.

Informasi yang dihimpun acehkita.co, tujuh perempuan itu berkaraoke di sebuah cafe dengan kondisi lampu dimatikan. Polisi juga mendapati sejumlah lelaki, namun saat penggerebekan mereka berhasil melarikan diri.

"Karena anggota kita terbatas, yang pria berhasil lolos," kata Kepala Seksi Penegakan Peraturan Perundang-undangan dan Syariat Islam WH Banda Aceh, Evendi, Ahad (31/8/2014) malam.

Saat ditangkap, kata Evendi, perempuan tersebut tengah asik bergoyang mengikuti alunan musik karaoke. Mereka melanggar Qanun No 5/2000 tentang pelaksanaan Syariat Islam. Saat ini mereka telah dijemput keluarga. | GHAISAN

BERITA FOTO | Para Penambang Emas Melawan

/ No Comments
GEUMPANG | ACEHKITA.CO -- Gubernur Aceh Zaini Abdullah berkali-kali menyebutkan, pertambangan emas tradisional di Kecamatan Geumpang, Kabupaten Pidie, harus ditutup karena dikerjakan secara ilegal dan merusak lingkungan serta kesehatan warga.

Menanggapi hal tersebut, Sabtu (30/8/2014) ribuan warga Kecamatan Geumpang, Manee, dan Tangse menggelar rapat akbar untuk menolak keputusan yang dikeluarkan oleh Gubernur Aceh itu. Warga yang selama ini menggantungkan hidup dari pertambangan emas tradisional itu mengatakan, mereka menjamin kematian ribuan ikan di dua sungai di Kabupaten Pidie yang bermuara ke Teunom, Kabupaten Aceh Jaya, bukan karena sungai tersebut tercemar limbah pertambangan emas milik warga.

“Kedua sungai yang tercemar itu sangat jauh dengan pertambangan kami, jika ikan mati karena limbah tambang emas tradisional milik masyarakat, kenapa sungai yang letaknya lebih dekat dengan pertambangan tidak ditemukan ikan mati,” sebut M Nasir, koordinator penambang dari tiga kecamatan itu dalam orasinya.

Untuk mempertahankan agar usaha pertambangan emas tradisional yang telah memperbaiki perekomian ribuan masyarakat Geumpang, Manee dan Tangse tetap bisa beroperasi, ribuan penambang yang menghadiri rapat akbar itu, berdiri di panasnya matahari. Mereka juga menandatangani kain putih berstempel darah yang akan dikirimkan kepada Gubernur Aceh sebagai bentuk penolakan terhadap penutupan tambang rakyat.

“Boleh, tambang kami ditutup, tapi sebelumnya, Gubernur Aceh harus menutup semua perusahaan tambang yang ada di Aceh dan semua perusahaan asing di Aceh harus diusir dari Aceh,” teriak M Nasir dalam orasinya yang disambut teriakan setuju masyarakat.

Bagi warga Geumpang, Manee dan Tangse,  tambang emas tradisional telah menjadi primadona untuk bisa memperbaiki perekonomian mereka yang pernah hancur akibat konflik bersenjata di Aceh.

Mereka yang dulunya disebut kampungan dan miskin oleh masyarakat yang tinggal di luar tiga kecamatan itu, setelah tambang emas tradisional beroperasi, kata-kata ejekan tersebut mulai hilang. “Sekitar 12 ribu masyarakat hidup dan mencari nafkah di tambang emas, mulai dari penggali emas, tukang ojek bahkan pengangkut barang keperluan penambang, jika tambang ditutup, maka mereka semua akan menganggur dan kembali hidup miskin,  bahkan mereka bisa menjadi perampok atau pencuri,” sambung M Nasir. | NASKAH/FOTO: GIBRAN/ACEHKITA.CO








FOTO | Cap Jempol Darah

Sabtu, 30 Agustus 2014 / No Comments
Seribuan lebih penambang dari Kecamatan Geumpang dan Mane membubuhkan tandatangan dan cap jempol merah di atas kain putih sepanjang 50 meter pada rapat akbar di terminal keude Geumpang, Sabtu (30/8/2014). Mereka memprotes kebijakan gubernur yang memerintahkan penutupan tambang tradisional di Aceh. | FOTO: Ucok Parta/ACEHKITA.CO





Penambang Emas Geumpang Cap Jempol Darah

/ No Comments
Ucok Parta/ACEHKITA.CO
GEUMPANG | ACEHKITA.CO -- Seribuan penambang emas tradisional di Kecamatan Geumpang dan Mane, Pidie, menggelar rapat akbar di terminal Geumpang, Sabtu (30/8/2014). Rapat akbar diwarnai dengan aksi cap jempol darah para penambang.

Rapat itu digelar untuk memprotes kebijakan gubernur yang memerintahkan penutupan tambang ilegal di sejumlah tempat di Aceh, menyusul dugaan tercemar daerah aliran sungai di Geumpang dan Teunom, Aceh Jaya, akibat penggunaan merkuri.

Muhammad Nasir, koordinator para penambang, dalam orasinya mendesak Gubernur Aceh dan Muspida untuk mencabut instruksi yang pernah dikeluarkannya untuk menutup tambang rakyat.

"Apapun yang terjadi kami tidak akan menutup dan beranjak dari usaha kami. Kalau memang tidak ramah lingkungan harusnya pemerintah menunjuki cara bagaimana yang ramah lingkungan. Kalau memang disebut ilegal harusnya pemerintah membuat menjadi legal," kata Muhammad Nasir.

Nasir juga menuntut, bila pemerintah tetap ngotot menutup usaha mereka, maka seluruh modal asing yang ada di Aceh juga harus diusir.

Selain orasi dari pelbagai elemen, dalam rapat akbar tersebut juga dilakukan cap jempol darah pada kain putih sepanjang 50 meter. "Kain tersebut nantinya akan diserahkan pada gubernur sebagai bukti sampai titik darah terakhir kami akan tetap menambang dan mempertahankan usaha itu," kata M. Abet tokoh masyarakat setempat. | UCOK

Penambang Emas Geumpang Protes Kebijakan Gubernur

/ No Comments
Penambang di Geumpang. | FOTO: Ucok Parta/ACEHKITA.COM
BANDA ACEH | ACEHKITA.CO -- Ratusan penambang emas tradisional di Kecamatan Geumpang dan Mane memprotes kebijakan gubernur Aceh yang akan menutup tambang tradisional di Aceh. Penutupan itu menyusul kematian ikan di sungai Tangse (Pidie) dan Teunom (Aceh Jaya) yang diduga kuat akibat cairan mercury.

Instruksi Gubernur Aceh Zaini Abdullah berujung pada penyitaan 12 keping emas batangan dan sejumlah perak oleh polisi di rumah Haji Abbas, Rabu (27/8/2014) lalu. Penyitaan itu dilakukan menindaklanjuti instruksi gubernur yang melarang penambangan emas secara ilegal karena mencemari lingkungan. (Baca: Polisi Sita Emas Batangan Penambang Geumpang)

Tadi pagi, 30 Agustus 2014, ratusan para penambang di Geumpang dan Mane menggelar pertemuan. M. Nasir, seorang penambang, menyebutkan, rapat tersebut meminta agar gubernur segera mencabut seruan penutupan tambang tradisional di Aceh.

"Perlu kami jelaskan, saat ini lebih 5.000 jiwa masyarakat, termasuk korban konflik, menggantungkan hidup dari usaha tambang emas ini," kata Nasir. "Kami mencoba bangkit dari keterpurukan ekonomi akibat konflik berkepanjangan."

Para penambang menyebutkan, alasan gubernur bahwa kematian ikan di Tangse dan Teunom akibat mercury "tidak bisa diterima". Pasalnya, terdapat dua kesimpulan lab yang saling bertolak belakang. Uji lab pertama menyatakan bahwa ikan mati tersebut bukan disebabkan mercury. Namun, uji lab selanjutnya disebutkan bahwa ikan tersebut mati akibat aliran sungai tercemar merkuri.

"Kami yakin ada bisikan dan desakan pihak tertentu. Karena hampir semua wilayah di Geumpang pernah diklaim oleh perusahaan tambang," ujar Nasir.

Para penambang juga meminta agar tim independen turun untuk menyelidiki air sungai di Geumpang apakah tercemar akibat merkuri atau tidak, termasuk menelusuri dari mana asal bahan kimia semacam phosfat, merkuri, dan sulfida berasal. "Jangan langsung mengkambinghitamkan para penambang," lanjut Nasir.

Meski Gubernur Zaini telah menginstruksikan penutupan penambangan tradisional, para penambang mengaku tidak akan menutupnya. "Kami akan terus menambang dan berupaya sekeras tenaga untuk tidak mencemari lingkungan. Kalau kemudian dikatakan kami tidak ramah lingkungan, harusnya pemerintah mengajari kami cara menambang yang ramah lingkungan, bukan dengan menutup tempa usaha kami," pungkas Nasir. []

UIN Ar-Raniry Wisuda 620 Lulusan

Kamis, 28 Agustus 2014 / No Comments
Nat Riwat
BANDA ACEH | ACEHKITA.CO -- Universitas Islam Negeri (UIN) Ar-Raniry Banda Aceh kembali mewisuda 620 orang sarjana pada rapat senat terbuka wisuda semester genap tahun akademik 2013/2014 di Auditorium Prof Ali Hasjmy, Kamis (28/8/2014).

Wakil Rektor bidang Akademik dan Pengembangan Lembaga Muhibbuthabry menyebutkan, jumlah yang diwisuda semester ini sebanyak 620 orang, di antaranya program pascasarjana menghasilkan satu orang doktor dan 78 magister. Sementara jenjang strata satu (S-1) masing-masing Fakultas Syariah dan Ekonomi Islam 145 orang, Fakultas Ilmu Tarbiyah dan keguruan 210 orang, Fakultas Ushuluddin dan Filsafat 38 orang, Fakultas Dakwah dan Komunikasi 65 orang, dan Fakultas Adab dan Humaniora 83 orang.

“Dengan bertambahnya lulusan UIN Ar-Raniry sebagaimana telah disebutkan, maka sampai dengan saat ini UIN Ar-Raniry telah menghasilkan 20 doktor, 833 magister, 22.809 sarjana, 1.043 orang lulusan D-3, dan 2.377 lulusan ahli muda (D-2),” papar Muhib.

Lulusan untuk jenjang sarjana yang memiliki predikat "istimewa/cum laude" sebanyak 123 orang. Riska Mutiara Wahyu dari Prodi Sejarah dan Kebudayaan Islam meraih IPK tertinggi, yaitu 3,95.

Rektor UIN Farid Wajdi Ibrahim mengatakan, setelah kembali ke tengah masyarakat para lulusan akan menghadapi beragam tantangan, mulai dari masalah dekadensi moral, radikalisme, aliran sesat, pengangguran, hingga kemiskinan. "Sebagai alumni UIN, mereka harus mampu menjawab segala tantangan itu," ujar Farid. | NAT RIWAT